Solidaritas dengan Buruh Migran Perkebunan Sawit di Sabah Hadapi Pandemi Covid-19


Sabah, Malaysia, adalah salah satu wilayah yang paling terpukul oleh pandemi Covid-19, di mana pekerja migran di perkebunan kelapa sawit adalah kelompok yang paling terdampak. Hingga 24 April 2020, kasus infeksi Covid-19 di distrik Tawau adalah yang tertinggi di Sabah, dengan 81 kasus yang dikonfirmasi dari 309 kasus terjadi di 16 distrik lain di seluruh Sabah.
Otoritas kesehatan Malaysia pada 24 April melaporkan jumlah total kumulatif menjadi 5.691 kasus di negara itu, dengan rata-rata kenaikan harian berkisar dalam angka dua digit selama kedelapan berturut-turut. Negara ini sekarang telah melaporkan 96 kematian akibat Covid-19 sejak wabah dimulai.
Sejak 25 Maret 2020, pemerintah Malaysia mengeluarkan Perintah Kontrol Gerakan (MCO). Sebagian besar perkebunan kelapa sawit serta pabrik dan kilang, diperintahkan untuk berhenti beroperasi. Akibatnya, para pekerja dikurung di dalam perkebunan, di mana mereka tidak diizinkan pergi membeli bahan makanan.
Pasar mingguan di banyak perkebunan tidak diizinkan untuk dibuka, dan pedagang keliling dilarang memasuki area perkebunan. Banyak pekerja migran mengalami kekurangan pasokan makanan untuk bertahan hidup.
Meskipun ada persediaan makanan dan bantuan dari berbagai kelompok dan lembaga di Sabah, namun bantuan tersebut kebanyakan tidak menargetkan pekerja migran; migran telah bekerja dengan status lepas dan kontrak selama bertahun-tahun, dan mereka bahkan ditemukan di beberapa perusahaan kelapa sawit besar di Sabah. Buruh migran, terutama mereka yang tidak bedokumen lengkap, sebagian besar tidak mendapatkan bantuan seperti itu.
Perusahaan kelapa sawit lebih mengkhawatirkan kelanjutan operasi bisnis mereka. Pada pertengahan April, asosiasi pengusaha telah meminta Pemerintah Federal Sabah untuk memasukan industri kelapa sawit sebagai sektor strategis dan esensial untuk diizinkan beroperasi selama pandemi Covid-19.
Permintaan itu disetujui hanya untuk area perkebunan tanpa ada kasus Covid-19. Sebagian besar perkebunan kelapa sawit dan kilang kembali beroperasi pada 13 April—tetapi beberapa yang lain lagi berhenti beroperasi pada minggu berikutnya.
Banyak pekerja migran melaporkan bahwa upah mereka untuk bulan Maret telah berkurang karena tidak bekerja selama 5 hari, dan mereka khawatir bahwa 12 hari jatah libur pada bulan April juga akan dikurangi, terlepas dari perintah MCO dari pemerintah dan instruksi yang jelas bahwa hak-hak pekerja harus ditegakkan. Pekerja telah mengirimkan keluhan online mereka ke Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia, di tengah keterbatasan sumber daya saat ini.
Satu gugus tugas yang dibentuk oleh Serikat Karyawan Industri Perkebunan Sabah (SPIEU), Komrad Borneo, Gabungan Persatuan Belia Bahagian Tawau, dan Asosiasi Keluarga Berencana Sabah, bersama dengan Asia Monitor Resource Center dan Solidaritas Transnasional Buruh Kelapa Sawit, telah mendistribusikan kebutuhan dasar kepada para migran pekerja dan keluarga mereka, termasuk makanan (beras, ikan kaleng, minyak goreng, mie, telur, dan beberapa lainnya), serta obat-obatan, masker dan sarung tangan.
Fase distribusi pertama ini menjangkau para pekerja di sembilan perkebunan dan area perkebunan kecil di Tawau, Brantian, Kalabakan, Kunak, dan Tenom pada 19 April. Kebutuhan mendesak terbesar adalah beras dan bahan makanan lainnya, karena semakin sulit diperoleh di pasar. Karena itu, gugus tugas harus melakukan pre-order makanan selama beberapa hari.










Talks

Posting Komentar