Hari ini, buruh perempuan PT DDP masih tutup jalan perusahaan

Mukomuko (ANTARA) - Seratusan buruh perempuan yang bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit PT DDP di Desa Air Berau, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, sejak hari Rabu (5/8) sampai sekarang masih menutup akses jalan perusahaan sampai semua tuntutannya diterima oleh perusahaan tersebut.

DEPORTEES: “WE’RE TREATED LIKE ANIMALS”

  • 0

 

Press Statement - Coalition of Sovereign Migrant Workers and the Indonesian National Human Rights Commission

"Indonesian migrant workers were massively deported after cruel and inhuman detention in Sabah, Malaysia (December 2019-June 2020)."


We investigated the condition of Indonesian migrant workers who were massively deported after cruel and inhuman detention in Sabah, Malaysia between December 2019 to June 2020. We found systematic violations of human rights against the migrants that have occurred for many years. Such violations took place systematically and on an immense scale.

More than 900 undocumented migrant workers were deported between June and July 2020. They have survived torture and other cruel, inhumane and degrading treatment at the Temporary Detention Centre in Sabah while waiting for the procedural administration of their deportation process with some waiting since December 2019.

Amnesti Internasional khawatir dengan kasus kematian di Pusat Tahanan Imigrasi Malaysia

 

Amnesty International Malaysia (AI-M) telah menyatakan kekhawatirannya dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri di Parlemen yang mengungkapkan bahwa dua puluh tiga tahanan, termasuk dua anak, telah meninggal di pusat-pusat penahanan imigrasi dari Januari hingga Juni 2020.

“Kematian dalam pusat tahanan harus menimbulkan perhatian dan mendorong adanya investigasi yang terbuka dan transparan. Sebaliknya, kita tahu 151 orang tewas dalam penahanan antara 2016 hingga September 2019, namun belum ada investigasi yang bermakna, menyeluruh dan terbuka pada publik atas kematian ini.

Deportan: “Kami diperlakukan seperti binatang”


Pernyataan Pers – Koalisi Buruh Migran Berdaulat dan Komnas HAM RI

Kondisi buruh migran Indonesia menjalani proses deportasi massal di Pusat Tahanan Sementara di Sabah, Malaysia (Desember 2019-Juni 2020)


Kami melakukan penelusuran dan mendapatkan temuan terjadinya kasus pelanggaran hak asasi manusia yang berlangsung secara sistematis dan massal terhadap ribuan buruh migran yang terjadi bertahun-tahun, sekaligus membuktikan bahwa kasus ini bukan hanya bersifat individual.

Penelusuran ini kami lakukan sepanjang Maret-Juli 2020 terkait deportasi massal buruh migran Indonesia di Sabah, Malaysia. Lebih dari 900 buruh migran merupakan penyintas siksaan di  Pusat Tahanan Sementara (PTS) di Sabah yang ditahan untuk menunggu proses administrasi deportasi antara lain sejak Desember 2019, karena tidak memiliki dokumen.

Precarious Working Conditions on Plantation Owned by Belgian Company SIPEF

  • 0


After years of working for the palm oil plantation PT. Agro Kati Lama (AKL), Andi (36 years) was suddenly dismissed by the company management in December last year.
When he was recruited, Andi worked as a daily casual worker (Buruh Harian Lepas/BHL), a work status that means he gets paid daily based on the number of days he would work, until November 2017. Later, Andi was promoted to become a contractual harvest worker (buruh kontrak) with a one year of contract—with another year of contract extension—until November 2019. In August 2019, Andi was transferred to become a supervisor of a road construction project.
Without notice from the company, Andi along with around 200 other harvest workers were suddenly demoted from being contract workers to daily casual workers or ‘buruh harian lepas’ (BHL). The employment relationship between the workers and PT AKL was also transferred to the CV Terang Jaya, a labor outsourcing agency. Initially the company said that his employment as a casual worker was temporary and only valid for one month from November to December 2019.
However, Andi was not reemployed or reappointed as a contract worker after his contract ended. "I have come to the management office twice to clarify my employment status. The company said that I was no longer employed, either as a harvester or as a BHL. The company argues there is no more work for me," said Andi.
Andi is not alone. The majority of PT. AKL workers are in precarious working conditions. During December 2017 to October 2019, an investigation into the working conditions on PT. Agro Kati Lama, a subsidiary of SIPEF group, a transnational company from Belgium, found that PT. AKL have allegedly committed serious violations of human rights by employing workers in precarious conditions.[1]

Kondisi Kerja Rentan di Perkebunan Milik Anak Perusahaan SIPEF asal Belgia

  • 0
Setelah bertahun-tahun bekerja untuk perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Agro Kati Lama (AKL), Andi (36 tahun) tiba-tiba diberhentikan oleh manajemen perusahaan pada Desember tahun lalu.
Pada awalnya, Andi bekerja sebagai buruh harian lepas (BHL) hingga November 2017. Kemudian, Andi dipekerjakan sebagai pemanen dengan status sebagai pekerja kontrak selama dua tahun—dengan dua kali perpanjangan kontrak tahunan—hingga November 2019. Pada Agustus 2019, Andi sempat dimutasi dari sebagai pemanen menjadi pekerja supervisor pemasangan koral untuk konstruksi jalan.
Tanpa pemberitahuan dari perusahaan, Andi beserta sekitar 200 pekerja pemanen lainnya tiba-tiba kembali bekerja sebagai BHL. Hubungan kerja sebagai BHL juga dialihkan kepada yayasan outsourcing CV Terang Jaya. Awalnya perusahaan mengatakan, status BHL itu hanya berlaku selama satu bulan antara November-Desember 2019.
Namun, Andi ternyata tidak dipekerjakan maupun diangkat kembali sebagai pekerja kontrak sejak Desember tahun lalu hingga saat ini. “Saya telah dua kali mendatangi kantor manajemen untuk menanyakan kejelasan status dan hubungan kerja. Manajer PT. AKL mengatakan bahwa saya tidak lagi dipekerjakan, baik sebagai pemanen maupun sebagai BHL. Perusahaan beralasan belum ada lagi pekerjaan untuk saya,” kata Andi.
Andi tidak sendiri. Mayoritas pekerja kebun PT. AKL berada pada kondisi kerja yang amat rentan. Sepanjang Desember 2017 hingga Oktober 2019, investigasi yang dilakukan menemukan kondisi kerja yang buruk di perkebunan milik PT. Agro Kati Lama, anak perusahaan SIPEF asal Belgia.[1]
Berdasarkan hasil investigasi tersebut, PT. AKL diduga melakukan pelanggaran serius hak asasi manusia dengan mempekerjakan buruh pada kondisi yang buruk dan tanpa jaminan.

Solidarity Report: Plantation workers on strike! Demanding rights at workplace

  • 0
Plantation workers went on strike demanding rights at the workplace

On last Tuesday, (21/07), workers members of FPBM-KASBI union in the palm oil plantation owned by PT. Nusa Indah Kalimantan Plantations (PT. NIKP) went on strike. The company, which its plantation located in Mukti Jaya village in East Kutai regency, West Kalimantan province, is accussed of not fulfilling workers’ rights, which as following: